Universitas Nurul Jadid Mewisuda 1.115 Mahasiswa di Aula Pesantren
Universitas Nurul Jadid Mewisuda 1.115 Mahasiswa di Aula Pesantren

nuprobolinggo.or.id - UNIVERSITAS Nurul Jadid atau Unuja, mewisuda 1.115 mahasiswa, Sabtu (29/10/2022) di aula I dan aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jatim.

Terdiri dari Fakultas Agama Islam sebanyak 465 orang, Fakultas Teknik 313 orang, Fakultas Kesehatan 100 orang, Fakultas Sosial Humaniora 149 orang, dan magister 88 orang.

Mengusung tema “Bakti UNUJA untuk Peradaban Bangsa,” acara wisuda ini menjadi puncak peringatan Milad ke-5 atau 1 Lustrum kampus berbasis pesantren tersebut. Serangkaian acara lain telah digelar sepanjang Oktober 2022, bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Santri Nasional 2022.

Rektor Unuja Probolinggo, KH Abdul Hamid Wahid berharap, lulusan yang diwisuda mampu membaktikan diri dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

Kiai Hamid mengatakan, Unuja berkomitmen membentuk generasi yang unggul, siap menghadapi tantangan, dengan tetap melestarikan keluhuran tradisi, berbekal keimanan dan ketaqwaan yang kuat kepada Allah SWT.

Komitmen tersebut merupakan wujud bakti bagi peradaban bangsa yang tercermin dalam lima bidang. Yaitu bidang Pendidikan, penelitian dan pengandian kepada masyarakat, tata Kelola, dan bidang Kerjasama.

Kiai Hamid menyatakan, memasuki periode ke-2 dalam tahap 5 tahunan (2023-2027), Unuja diproyeksikan dapat meningkatkan mutu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang inovatif, berorientasi kebermanfaatan, serta berkontribusi langsung kepada masyarakat dan pembangunan nasional.

“Visi tersebut juga menegaskan posisi Unuja sebagai institusi pendidikan tinggi di tengah-tengah masyarakat, baik nasional maupun secara global,” katanya.

Dalam konteks tersebut, sebagai perguruan tinggi pesantren, Unuja berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan bangsa dan negara Indonesia dari berbagai ancaman, termasuk resesi dunia.

Dalam lustrum kedua di periode 2023-2027, kata Kiai Hamid, Unuja akan fokus pada tiga sektor prioritas yang dinilai menjadi kunci bagi pemulihan dunia yang kuat dan berkelanjutan.

Pertama, penguatan arsitektur kesehatan global yang dilakukan melalui inisiasi pendirian pusat layanan terpadu ibu dan anak. Pusat layanan ini akan memadukan peran tenaga kesehatan, pendidik, tokoh agama, advokat, pengusaha, dan psikolog untuk memberikan layanan kepada masyarakat secara berkelanjutan melalui layanan pra nikah, layanan nikah, layanan ibu hamil, dan layanan ibu dan balita.

Kedua, transformasi digital dengan membangun pengetahuan dan ketahanan cyber di masyarakat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan di perguruan tinggi maupun di pondok pesantren.

Ketiga, transisi energi yang diwujudkan dengan gerakan membangun energi baru terbarukan yang andal, aman, efisien dan berkelanjutan di berbagai sektor vital. Dalam konteks ini, Unuja telah memulai dengan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro maupun Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang memanfaatkan potensi alam di lingkungan sekitar. 

Selain untuk menegaskan posisi Unuja di tengah pentas peradaban saat ini, upaya-upaya pengembangan ilmu dan teknologi itu merupakan salah satu bentuk pengejawantahan dari Trilogi dan Pancakesadaran Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Trilogi dan Pancakesadaran itu adalah pusaka yang telah diwariskan kepada kita semua untuk     menjamin keberkahan dan kebermanfaatan hidup kita di tengah masyarakat,” kata Kiai Hamid.


Pesan Pengasuh Ponpes Nurul Jadid

Kiai Zuhri mengajak wisudawan dan wisudawati untuk bersyukur kepada Allah SWT. Sebab dengan bersyukur, nikmat akan bertambah. 

Namun menurut Kiai Zuhri, rasa syukur tak cukup disampaikan kepada pemberi nikmat. Sebab nikmat Allah tidak langsung dijulurkan dari langit. Melainkan lewat perantara orang-orang yang berjasa. Terutama orang tua. 

“Baik yang menjadi penyebab lahir (orang tua kandung, Red), mertua, atau yang telah merawat. yaitu guru-guru kita. Insyaallah nikmat-nikmat itu akan terus bertambah. Tidak akan dicabut,” pesannya. 

Kepada 1.115 wisudawan dan wisudawati, Kiai Zuhri juga memberi tips menjaga nikmat agar tidak hilang.

“Jangan merasa puas dengan apa yang telah diraih. Karena puas berarti merasa selesai,” pesannya, dikutip dari timesindonesia.co.id. Sebab hidup adalah proses, dan proses kehihupan itu terus naik.

Kiai Zuhri menyatakan ilmu tak hanya untuk diketahui, apalagi ditumpuk-tumpuk. Tapi diamalkan untuk diri sendiri dan orang lain.

Menurut Kiai Zuhri, ilmu adalah anugerah, akan halnya harta. Ilmu merupakan anugerah untuk mengabdi kepada Allah dan kepada sesama. Siapa pun orangnya. 

“Ketika diberi ilmu dan kelebihan lain, bagaimana itu bermanfaat bagi diri dan sesama. Bahkan makhkuk lain berupa pelestarian lingkungan,” terangnya di hadapan 1.115 wisudawan Unuja Probolinggo. (*)