Posisi Kepala Jenazah Saat Diantarkan ke Kuburan di Depan Atau di Belakang? Ini Jawabannya
Posisi Kepala Jenazah Saat Diantarkan ke Kuburan di Depan Atau di Belakang? Ini Jawabannya

Keterangan Gambar : Ilustrasi perawatan jenazah. Foto: nu.or.id

nuprobolinggo.or.id - PROBOLINGGO - Merawat jenazah merupakan fardhu (wajib) kifayah bagi setiap muslim. Terdapat 4 hal yang menjadi kewajiban dalam perawatan jenazah yakni memandikan, mengafani, mensalati dan menguburkan.

Dalam hal kewajiban merawat jenazah tersebut ada beberapa adab yang juga bernilai kesunnahan untuk dilakukan.

Terkadang sebuah pertanyaan muncul saat jenazah hendak diantarkan ke kuburan, apakah posisi kaki atau kepala yang berada di depan?.

Untuk mendapat jawabannya Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Cabang Kabupaten Probolinggo pun membahasnya.

Ikhtilaf ulama dalam memutuskan tentang posisi kaki jenazah (mayat) berada di depan atau di belakang menjadikan masyarakat terkadang ragu (was-was) menggunakan hukum (Fiqih) yang mana.

Diputuskan dalam Bahtsul Masail LBM NU tersebut bahwa posisi kepala jenazah (mayat) berada di depan (arah jalan) dan posisi kaki di belakang.

Berikut dalil pendapat ulama dalam kitab Syarwany yang dijadikan sandaran hukum fiqihnya :

"حواشي الشرواني على تحفة المحتاج   4  /3

)وَهُوَ) أَيْ الْحَمْلُ بَيْنَهُمَا (أَنْ يَضَعَ الْخَشَبَتَيْنِ الْمُقَدَّمَتَيْنِ) وَهُمَا الْعَمُودَانِ (عَلَى عَاتِقَيْهِ وَرَأْسِهِ بَيْنَهُمَا وَيَحْمِلُ الْمُؤَخَّرَتَيْنِ رَجُلانِ) أَحَدُهُمَا مِنْ الْجَانِبِ الأَيْمَنِ وَالآخَرُ مِنْ الْجَانِبِ الأَيْسَرِ لا وَاحِدٌ لأَنَّهُ لَوْ تَوَسَّطَهُمَا لَمْ يَنْظُرْ الطَّرِيقَ وَإِنْ حَمَلَ عَلَى رَأْسِهِ خَرَجَ عَنْ الْحَمْلِ بَيْنَ الْعَمُودَيْنِ وَأَدَّى إلَى تَنْكِيسِ رَأْسِ الْمَيِّتِ (وَالتَّرْبِيعُ أَنْ يَتَقَدَّمَ رَجُلانِ وَيَتَأَخَّرَ آخَرَانِ)

قوله: (إلى تنكيس رأس الميت) يؤخذ منه أن السنة في وضع رأس الميت في حال السير أن يكون إلى جهة الطريق سواء القبلة وغيرها بصري

Dalil di atas bisa diambil  kesimpulan bahwa kesunnahan dalam memposisikan kepala jenazah saat membawanya (menuju pemakaman) adalah menuju arah tujuan baik berketepatan arah kiblat atau tidak, (penjelasan sayyid umar bashri). (Sholeh)