Hukum Ibadah untuk Hajat Tertentu
Hukum Ibadah untuk Hajat Tertentu

Keterangan Gambar : Berdoa Setelah Sholat Tahajjud

nuprobolinggo.or.id -Setiap manusia memiliki kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Kebutuhan-kebutuhan tersebut kadang banyak terpenuhi bagi sebagian orang dan kadang hanya kebutuhan primer yang terpenuhi bagi sebagian yang lain.

Dalam proses atau usaha memenuhi kebutuhan tersebut ada yang melaluinya dengan cara mudah dan ada yang mendapatkannya dengan cara yang sulit dan berat. Dalam proses yang berat tersebut sebagian orang yang beriman melakukan pendekatan-pendekatan sangat intens kepada Penciptanya melalui ibadah-ibadah. Kita ambil contoh tahajjud. Sebagian orang melakukan sholat sunnah tahajjud setiap malam sampai dengan jumlah malam tertentu. Dalam ibadahnya tersebut terselip sebuah keinginan agar hajatnya terkabul seperti kenaikan pangkat dalam karir, bertambahnya rizki, terbelinya rumah dan lain sebagainya.

Pertanyaannya adalah; bolehkah melakukan ibadah dengan adanya niat terpenuhinya hajat tertentu seperti contoh tersebut? Jawabannya adalah BOLEH.

Permasalahan berikutnya adalah masalah niat. Jika niat dalam beribadah tersebut adalah untuk terpenuhinya hajat maka tidak ada pahala bagi pelakunya. Jika niat dalam beribadah tersebut lebih dominan untuk urusan akhirat/ibadah maka orang yang melakukannya akan mendapat pahala. Imam Al-Qolyubi dalam kitabnya (juz 1 hal. 47) mengatakan

كل عبادة وقع فيها تشريك فإن فاعلها يثاب عليها إن غلب الأخروي كما لو انفرد قاله الغزالي


"Setiap ibadah yang di dalamnya terdapat kepentingan duniawi dan ukhrawi maka pelakunya akan mendapat pahala jika sisi ukhrawinya lebih kuat. Hal ini seperti ibadah yang dilakukan hanya untuk urusan akhirat saja. Begitu yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali."

Dengan kata lain, jika niat ibadahnya lebih dominan sisi duniawinya maka pelaku ibadah tersebut tidak akan mendapat pahala.

Dari paparan singkat ini mari kita bijak dalam menentukan niat ibadah. Kita usahakan ibadah kita tidak hanya berbuah di dunia tapi juga berbuah di akhirat.

والله أعلم بالصواب


Penulis : Ihya' Ulumuddin